Social Icons

Pages

Jumat, 06 Mei 2011

Berita Osama Bin Laden Tewas

Beberapa hari ini, media massa di seluruh dunia hampir tidak ada yang melewatkan berita tewasnya Osama Bin Laden (OBL) sebagaimana diumumkan secara resmi oleh Presiden AS, Barrack Hussein Obama pada Minggu malam 1 Mei 2011 waktu AS. Berita kematian yang banyak mendapatkan tanggapan di seluruh dunia tersebut mengingatkan saya pada artikel Blog I-I berjudul Dimana Osama Bin Laden ? yang dipublikasikan pada 19 Juni 2007. Bagaimana analisa Blog I-I selanjutnya terkait kematian OBL ? Apakah argumentasi yang dibangun oleh Sidney Jones dari ICG (International Crisis Group) tentang dampak kematian Obama pada harian Jakarta Post edisi 4 Mei 2011 dapat dianggap valid? Seberapa penting kita menyaksikan kelompok seperti Front Pembela Islam (FPI) memperingati atau melakukan do'a bersama untuk OBL, serta sejauh mana kita dapat meyakini analisa ICG yang menggambarkan (1) akan terjadi pembalasan terhadap kepentingan Barat di Indonesia oleh para simpatisan OBL, (2) akan terjadi serangan balas dendam dan (3) penguatan afiliasi atau keeratan dengan al-qaeda baik ideologi maupun jaringan.
Bagaimana dengan analisa Blog I-I tentang kematian OBL? Serta adakah dampaknya bagi Indonesia? Proses kematian OBL, apabila nanti akhirnya AS membeberkan secara detail termasuk foto OBL yang tewas agak mirip dengan kematian Noordin M Top maupun Dr. Azhari, yakni killed during raid operation. Sebagaimana dipahami dalam studi kontra terorisme yang diajarkan oleh Barat, bahwa sebuah pembunuhan terhadap tersangka teroris harus sah secara hukum (lawful killing). Sehingga telah menjadi modus operandi umum bagi aparat keamanan baik polisi maupun militer untuk mencapai apa yang disebut sebagai lawful killing. Dalam kasus OBL ada sedikit kejanggalan karena OBL tidak bersenjata dan tetap dibunuh, walaupun akhirnya ahli hukum AS tetap mengklaim pembunuhan OBL tersebut lawful. Pembunuhan OBL juga dibuat sedemikian rupa sebagai sebuah theatre kepada publik dunia tentang keberhasilan puncak dalam perang melawan teror. Paska kematian OBL tersebut, berbagai komentar tokoh politik dunia bersahutan menyampaikan selamat kepada Presiden AS dan pasukan AS, bahkan di AS sendiri terjadi perayaan yang cukup besar memperingati keberhasilan tersebut.
Bagaimana respon kalangan Jihadis di seluruh dunia? benarkah akan ada balas dendam? apabila anda seorang jihadis sejati tentunya tidak akan memiliki sikap pendendam bukan? yang akan terjadi adalah justru berlawanan dengan analisa kebanyakan pengamat Barat termasuk Sidney Jones bahwa akan terjadi pembalasan terhadap kepentingan Barat. Yang akan terjadi adalah sejenak para jihadis menghentikan aktifitasnya melakukan evaluasi dan melihat kembali apa-apa yang telah terjadi selama proses jihadnya. Jihad bagi jihadis sejati tidak ada kaitan dengan OBL, tidak ada apa yang disebut sebagai pemimpin kharismatik, karena hanya ada Allah SWT semata di hati mereka. Bahwa terjadi proses saling mempengaruhi dalam metode perjuangan jihad dengan kekerasan adalah faktor pertemuan kesamaan cara pandang, dan secara ideologi telah serasi beriringan. Menerapkan cara pandang Barat ke dalam dunia Islam radikal adalah sama dengan melihat pada cermin yang salah, akibatnya hasil analisa cenderung sangat subyektif yang berangkat dari pemahaman Barat yang akan sulit mendeteksi hakikat perjuangan jihad kaum radikal Islam.
Kembali pada kesimpulan Sidney Jones. Pertama, tentang pergeseran kembali kepada target asing (foreign targets) termasuk simbol-simbol Barat khususnya Amerika. Dengan membesarkan opini bahwa akan terjadi pegeseran pada target asing, dengan analisa bahwa simpatisan OBL akan balas dendam kepada kepentingan Barat/AS, maka hal itu sama saja dengan mendorong atau menghasut secara halus kelompok radikal untuk melakukan serangan teror kepada kepentingan/target asing. Karena faktanya kelompok radikal di Indonesia sedang dalam kegamangan karena mereka sendiri dalam keadaan kepayahan karena kurangnya sumber daya dan melemahnya jaringan. Kematian OBL tentu saja melahirkan sikap marah pada satu sisi, namun juga ketidakberdayaan di sisi lain. Justru akibat dari analisa sebagian besar pengamat Barat termasuk Sidney Jones tersebutlah, berkembang potensi ancaman yang bahkan dapat berupa serangan nekat langsung ke jantung kepentingan AS, namun hal ini kecil kemungkinan terjadi di Indonesia, mengingat AS juga telah meningkatkan keamanan seluruh kepentingannya di dunia termasuk di Indonesia. Refleksi dari FPI dengan menunjukan simpati kepada OBL dapat menjadi cermin permukaan. Singkat kata, kondisi kelompok teroris adalah belum memungkinkan untuk membangun serangan, namun karena dipicu oleh ide pergeseran serangan kepada kepentingan/target asing, maka level ancaman terhadap asing paska analisa-analisa tersebut justru meningkat tajam.
Kedua akan terjadi serangan balas dendam. Sebagaimana saya sampaikan bahwa bukan sifat jihadis untuk membalas dendam kematian, yang ada adalah tuntutan penegakan keadilan atau qisas. Qisas oleh kaum orientalis dan pengamat Barat disimplifikasi sebagai retaliation atau retaliasi atau balas dendam, karena adanya keseimbangan atara darah dibayar darah, mata dibayar mata, dst. Qisas sesungguhnya tidak tepat dilihat sebagai balas dendam, karena semangatnya bukan didasari oleh perasaan dendam, melainkan lebih di dorong oleh sifat keadilan yang paling sederhana diterima oleh akal sehat manusia. Itulah sebabnya dalam kasus qisas disebutkan bahwa sifat pengampun adalah sangat mulia. Apabila kelompok teroris di Indonesia adalah sungguh-sungguh pengikut atau simpatisan OBL, mereka tidak akan menodai perjuangan dengan mengedepankan balas dendam atas kematian OBL. Apa yang akan terjadi justru jihad akan jalan terus dan bukan untuk atau demi OBL. Singkat kata, tidak ada kepemimpinan secara nyata dari OBL dalam mempengaruhi kelompok-kelompok teroris di kawasan yang jauh dari jangkauan OBL seperti Asia Tenggara. Namun demikian, bahwa terdapat simpati yang besar kepada OBL sebagai tokoh perlawanan yang dapat menjadi inspirasi adalah terbuka lebar-lebar.
Ketiga, penguatan keeratan hubungan Al-Qaeda baik secara ideologis maupun jaringan. Hal ini adalah satu-satunya kesimpulan Sidney Jones yang dapat diterima oleh Blog I-I, dan potensinya sangat kuat sebagaimana diterima oleh jaringan Blog I-I di kalangan radikal Islam. Pada satu sisi, berkembang semacam pengkajian kembali terhadap ide-ide perjuangan Al-Qaeda dalam berbagai kelompok Islam radikal di dunia. Namun disisi lain, berkembang pula revisi-revisi terhadap ideologi Al-Qaeda, khususnya dalam soal metode. Hal ini telah dicatat dalam sejarah yang menimpa gerakan Ikhwanul Muslimin yang memiliki sejumlah varian dalam metode perjuangannya. Kebanyakan motivasi yang bergerak ke arah metode perjuangan Al-Qaeda tidak didasari oleh keyakinan akan keberhasilan strategi perjuangan, namun lebih didorong oleh semangat jihad dan menjadi syuhada namun tanpa jaminan sukses di dunia. Tampaknya revisi terhadap ide-ide Al-Qaeda akan lebih berkembang, dari pada taqlid buta terhadap ide Al-Qaeda.
Blog I-I tidak akan terjebak dalam pembahasan sempit dampak kematian OBL bagi Indonesia, karena diperlukan kewaskitaan dalam mencermati apa yang akan terjadi berikutnya paska kematian OBL. Sebagaimana kita saksikan dalam dinamika perkembangan dunia, perang melawan teror menjadi sesuatu yang tanpa akhir dan tanpa pemenang, karena matinya satu teroris tidak menjamin hilangnya terorisme dari dunia yang dipandang tidak adil ini. Di kala perang melawan teror masih aktif, berkembang situasi yang juga memerlukan perhatian dunia, yakni krisis politik di sejumlah negara Timur Tengah, belum jelasnya akhir dari perang di Afghanistan, serta masih kuatnya kelompok-kelompok anti Barat di Irak. Apabila semua itu harus dihadapi secara bersamaan tentunya akan menghabiskan waktu dan energi negara koalisi, khususnya AS. Padahal disaat yang bersamaan, salah satu potensi kompetitor AS pada level global yakni China dengan tenangnya menikmati pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Di saat yan bersamaan pula, dunia mulai melupakan program nuklir Iran yang berpotensi merubah balance of power di kawasan dan di dunia. Berbagai kompleksitas situasi tersebut membutuhkan penyelesaian masalah satu per satu dalam waktu yang tidak terlalu lama. Blog I-I memperkirakan perang melawan teror akan mendekati masa akhirnya karena dengan simbolisme kematian OBL. Namun hal ini tidak menutup ruang potensi teror yang masih tersisa.
Paska pengakhiran periode perang melawan teror, AS dan Barat harus berkonsentrasi dalam penyelesaian perang Afghanistan, mengambil langkah yang tepat di Libya, kembali memperhatikan nuklir Iran, dan menerapkan strategi yang tepat dalam "campur tangan" untuk masa depan demokrasi di Timur Tengah. Sayangnya tantangan terbesar terhadap demokrasi justru berakar pada ajaran Wahabi yang dihembuskan oleh sahabat AS, yakni Saudi Arabia. Hal tersebut menciptakan dilemma yang serius bagi AS maupun negara-negara Barat dalam menyikapi perkembangan situasi di Timur Tengah. Hal ini tercermin dalam sikap negara-negara Barat yang terkesan masih mendukung kekuasaaan para penguasa yang korup dan otoriter di Timur Tengah, namun pada saat yang sama juga mendukung gerakan demokrasi.
Berita kematian Osama terlalu kecil bila kita melihatnya dari konteks geopolitik dunia maupun kawasan.
Semoga dapat menambah wawasan kita bersama.
Mengapa ICG begitu cepat merespon setiap peristiwa terorisme di Indonesia, tentunya karena memang pekerjaan utama ICG adalah demikian bukan? perhatikan bagaimana ICG mengilustrasikan berkembangnya model teror individual atau loner di Indonesia yang disamakan dengan perkembangan di Amerika dan Eropa dengan kajian lone-wolf terorist. Perhatikan pula bagaimana dengan cepat ICG mengambil kesimpulan bahwa serangan bom yang menimpa institusi dan aparat kepolisian sebagai balas dendam terhadap sepak terjang Detasemen 88. Mengapa kita digiring kepada analisa-analisa yang tampak sesuai dengan perkembangan di dunia Barat. Apakah benar situasi di Indonesia demikian? Sekarang Sidney Jones pun sangat cepat mengambil 3 kesimpulan serta beberapa narasi tentang implikasi kematian OBL bagi Indonesia. Pembukaan pertanyaan tersebut bukan untuk mendiskreditkan analisa ICG yang sepatutnya juga kita hargai, namun hanya sebagai penggugah intelektualitas komunitas Blog I-I untuk sejenak berpikir lebih jauh ke dalam dunia yang kita kenal dengan istilah komunikasi strategis kepada publik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text